Pemetaan Wilayah Keuskupan Weetebula

Gereja Stasi Hambapraing Paroki Kambajawa, Sumba Timur/ Foto : Dokumentasi Keuskupan Weetebula

Gereja Stasi Hambapraing Paroki Kambajawa, Sumba Timur/ Foto : Dokumentasi Keuskupan Weetebula

Sejak pulau Sumba masih menjadi wilayah misi dan berada di bawah naungan Vikaris Apostolik Ende – Flores, Pulau Sumbawa masih menjadi bagian wilayah Keuskupan Weetebula. Baru pada tahun 1989, berdasarkan Dekrit Paus Yohanes Paulus II tertanggal 23 Oktober 1989 tentang pembentukan Provinsi Gerejani Kupang, mulai dipikirkan lagi bagaimana selanjutnya dengan Sumbawa.

Berdasarkan Dekrit ini, yang masuk dalam Provinsi Gerejani Kupang adalah keuskupan – keuskupan di wilayah Nusa Tenggara Bagian Selatan. Sehingga dengan demikian, Keuskupan Weetebula dan Keuskupan Atambua yang selama itu berada di bawah wewenang Metropolitan Ende (Keuskupan Agung Ende) menjadi Keuskupan Sufragan Metropolitan Kupang (Keuskupan Agung Kupang).

Atas dekrit inilah, maka tanggal 24 Nopember 1990 diadakan acara serah terima wilayah Gerejani Sumbawa yang terdiri dari Paroki Bima dan Paroki Sumbawa Besar dari Uskup Keuskupan Weetebula (Mgr. G. Kherubim Pareira, SVD) kepada Uskup Keuskupan Denpasar (Mgr. Vitalis Djebarus, SVD). Dengan demikian, sejak 24 Nopember 1990 wilayah Keuskupan Weetebula hanya meliputi Pulau Sumba saja.

Dalam tatanan kepemerintahan, Keuskupan Weetebula berada di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 4 wilayah kebupaten se-daratan Pulau Sumba yakni :
1. Kabupaten Sumba Timur
2. Kabupaten Sumba Tengah
3. Kabupaten Sumba Barat
4. Kabupaten Sumba Barat Daya
Pada awalnya, Keuskupan Weetebula hanya mencakup 2 kabupaten yakni Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat. Namun, dengan adanya pemekaran wilayah di Pulau Sumba, maka Keuskupan Weetebula mencakup keempat wilayah kebupaten di atas.

Dalam tananan Gerejani, Keuskupan Weetebula meliputi 20 paroki dan 4 quasi paroki yang semuanya dikoordinasi dalam 3 Dekenat yakni Dekenat Waingapu, Dekenat Waikabubak dan Dekenat Weetebula. Dekenat Waingapu meliputi wilayah Kabupaten Sumba Timur, Dekenat Waikabubak meliputi wilayah Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat dan sebagian Kabupaten Sumba Barat Daya. Dekenat Weetebula meliputi Kabupaten Sumba Barat Daya.

Dari 20 paroki penuh dan 4 quasi paroki, di antaranya ada 5 paroki yang berpusat di ibu kota kabupaten, 12 paroki berpusat di ibu kota kecamatan dan 7 paroki lain berada di desa. Setiap paroki membawahi 7 sampai 29 stasi yang tersebar di desa atau kampung.

1754 Total Views 2 Views Today

You may also like...

1 Response

  1. Ana says:

    simon – Salam damai Kristus temen2 .Saya memberanikan diri untuk sdiiket menceritakan apa yang terjadi yang sebenarnya pada waktu awal Romo Yans bertugas di Paroki St Paulus Singaraja Saya menyadari mungkin ada kata yang kurang tepat, tapi saya berusaha bercerita disini kulit luarnya aja, karena klu sampai dalem2nya saya masih menunggu persetujuan Romo Yans. Cerita ini hasil dari obrolan panjang dengan seseorang yang bisa dipertanggung jawabkan. Adapun niat saya menulis ini bukan utk menyerang pihak2 tertentu, tapi hanya ingin menginformasikan kejadian yang sebenarnya. terima kasih maaf kalau nanti saya ada salah kata atau menyinggung perasaan Pada saat awal Rm Yans bertugas, beliau mencium adanya ketidakberesan dalam kepengurusan paroki, sehingga beliau mengambil suatu tindakan pembenahan.Beliau kemudian menyampaikan permasalahan ini ke Uskup Vitalis (saat itu) dan berkonsultasi, kemudian Bapak Uskup (secara lisan) menugaskan Rm Yans utk menjaga aset gereja. Dengan berbekal saran dari Bapak Uskup, maka segala pembenahan dilakukan oleh Rm Yans.Dalam proses pembenahan inilah akhirnya Rm Yans bersinggungan dengan pengurus Dewan Paroki, yang akhirnya beberapa dari mereka tdk mau lagi beribadah ke Gereja Paroki. kemudian merekapun mengajak umat lain utk ikut dengan mereka, dengan alasan yg menjelek2an Rm Yans, salah satunya Rm Yans dituduh berselingkuh.Sehingga ada beberapa umat yg dekat dengan mereka akhirnya ikut dengan mereka.Setelah ditinggalkan Dewan Paroki, maka Rm Yans minta bantuan umat utk mengurus gereja. dan akhirnya terbentuk Dewan Paroki yang anggotanya sangat awam soal kegiatan2 dan prosedural di gereja, dan anggota dewan ini tdk ada yg pekerjaannya berhubungan dengan Gereja/Yayasan/dll Setelah itu mereka yang notabene dekat dengan orang2 keuskupan denpasar (mengingat mereka adalah Dewan Paroki yg bertugas cukup lama) berusaha agar Rm Yans dipindahkan dari St Paulus, dan ternyata ada dukungan dari salah satu Romo yg punya jabatan dan sepertinya punya kepentingan di Paroki Singaraja.Akhirnya mereka merekayasa SK pemindahan Rm Yans tertanggal 5 Maret 1996. (ada 3 org yg memprakarsai, 2 org awam 1 Romo). Mereka melakukannya di Departemen Agama dan diketahui oleh Kepala Departemen agama Singaraja (orang bali, sekarang sudah pensiun dan masih hidup).Kemudian surat hasil rekayasa ini ditolak oleh Rm Yans. Nah dari sinilah orang2 keuskupan dan mungkin umat keuskupan denpasar mendengar bahwa Rm Yans seorang Pembangkang.Karena Rm Yans masih bersikukuh tdk mau menurut pemindahan dengan alasan SK itu palsu dan hasil rekayasa, maka mereka kembali berusaha (saya tdk bisa membuka disini) dan akhirnya Uskup Vitalis mengeluarkan SK pemindahan ( secara hirarki resmi).Tapi melihat beberapa faktor, Rm Yans (dengan memperjuangkan kebenaran) tidak mau menuruti SK yang kedua ini karena masih ada hubungannya dengan SK palsu yg pertama.Sebagai bahan pertimbangan, Rm Yans memperlihatkan dan mendiskusikan kepalsuan dari SK tertanggal 5 maret 1996 ke pihak Muspida Buleleng, Kodim BulelengSebenarnya masalah ini adalah masalah Rm Yans dengan segelintir umat yg membangkang, tapi karena adanya pihak2 yg punya kepentingan maka masalah ini akhirnya mengikutsertakan keuskupan.Kenyataan yg terjadi:-Rm Yans berhasil menyelamatkan sebidang tanah di daerah Temukus-Dewan Paroki saat itu telah menjual sebidang tanah milik gereja dan uangnya tdk ada.-Bendahara Dewan Paroki saat itu, akhirnya mengakui adanya korupsi terutama oleh dia sendiri-Pensiunan Kepala Departeman Agama mengakui bahwa SK tanggal 5 Maret 1996 itu di rekayasa, dan sekarang beliau merasa kasihan dengan Rm Yans.NB: Rm Yans mendapat dukungan begitu hebatnya dari umat, karena semua fakta di ungkapkan tanpa tedeng aling2, tdk ada trik dan tipu muslihat. Dan umat yakin Rm Yans membela kebenaran.Demikian sekilas awal mula Rm Yans di dakwa sebagai Romo Pembangkang Beberapa hal yg saya tulis ada datanya dan saya meyakini data ini valid .Mohon maaf jika ada yg tersinggung..Terimakasih..GBU all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *