Refleksi 4 Tahun Mgr. Edmund Woga CSsR di Keuskupan Weetebula

Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR

Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR

KEUSKUPAN WEETEBULA PERIODE 2008 – KINI
Periode Praedicare Redemptionem.

Pada tanggal 25 April 2008 – April 2009, Mgr. Edmund Woga, CSsR menjabat sebagai Administrator Keuskupan Weetebula dan kemudian beliau diangkat menjadi uskup Weetebula dan ditahbiskan sebagai uskup kedua Keuskupan Weetebula pada tanggal 16 Juli 2009.

Tulisan ini merupakan sebuah ringkasan sekaligus refleksi atas karya bapak uskup
selama 4(empat) tahun menggembalakan umat Keuskupan Weetebula.

Masa Pontificat Uskup Kedua Keuskupan Weetebula diawali dengan sebuah Pertemuan Pastoral(TEPAS) di Maumere tentang Kepedulian terhadap nasib umat katolik NUSRA untuk membangun kedaulatan pangan.

Tepas tahun 2009 di Maumere mengusung tema: PEDULI PETANI MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN dengan tujuan pencapaian Kedaulatan Pangan bagi umat Katolik NUSRA sebagai haknya. Untuk itu diperlukan kebersamaan Kolaboratif yang lebih sinergis dengan berbagai pihak. Kegiatan pemberdayaannya dilaksanakan melalui GAPOKTAN disertai dengan pembinaan berkelanjutan sehingga terbentuk Komunitas Mandiri Pangan. Tepas memandang KBG sebagai pilihan strategis pastoral Gereja dalam memberdayakan petani.

Tahun 2010 bapak uskup meninjak-lanjut TEPAS Nusra dengan melaksanakan Sidang Pastoral Keuskupan dengan agenda khusus membahas Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai strategi dan pintu masuk pemberdayaan umat untuk mencapai kemandirian dalam hal iman dan financial.
Tahun 2011 diadakan lagi Sidang Pastoral untuk mencari aksi yang tepat agar di dalam setiap KBG diusahakan kegiatan pemberdayaan ekonomi secara berdaya-guna dan berdampak ekonomis bagi umat.
Tahun 2012 dalam Sidang Pastoral secara khusus dibicarakan tentang Sakramen-Sakramentali agar pemahaman umat tentang buah-buah sakramen-sakramentali tersebut meresap dalam hati umat dan dihayati secara berdaya-guna.

Tahun 2013 ini akan diadakan Seminar selama 4 hari untuk menggairahkan kembali semangat berkatekese semua petugas pastoral di Keuskupan Weetebula, khususnya para imam dan birawan/ti.
Tema-tema dalam Sidang Pastoral dari tahun ke tahun selama masa 4 tahun ini sesungguhnya telah menjadi Garis Besar Haluan Gereja Keuskupan Weetebula, sekaligus menjadi penjabaran motto bapak Uskup yakni: “Pewartaan Penebusan.“

Tujuannya agar umat memperoleh penebusan dan pembebasan dari belenggu kemiskinan dan dari ketidakpahamannya terhadap iman yang dianut melalui wadah KBG. Atau merupakan sebuah maklumat tentang “Praedicare Redemptionem“ itu. Namun, saya harus katakan:“ Kita baru total mengatakannya dan belum maksimal menyatakannya.“ Dengan kata lain, kita sudah berada dalam proses dan jalur yang tepat.

Selanjutnya dalam Sidang Komisi Keukupan Weetebula pada tanggal 20 Nopember – 22 Nopember 2012 Bapak Uskup sekali lagi menegaskan kembali focus pastoral yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Keuskupan sbb:

Dalam rangka tahun IMAN dan Yubilium 125 Tahun Gereja Katolik di Pulau Sumba kita perlu meneguhkan iman yang sudah mulai tumbuh sekaligus memperdalam pemahaman umat kita tentang iman dan melalui berbagai pendampingan dan pembelajaran kita berjuang merubah mentalitas umat bahwa kesejahteraan rohani harus disejajarkan dengan kesejahteraan jasmani. Untuk itu, kita bersama-sama akan merenungkan dalam hati dan mengimplementasikan dalam aksi tema yubelium: “Mewartakan Injil sebagai Kekuatan Allah yang membebaskan.”

Kurun waktu 4 tahun ini telah pula terjadi beberapa peristiwa menggembirakan di dalam Keuskupan Weetebula :

Tahun 2008 – ketika beliau masih sebagai Administrator Keuskupan dalam kerjasama dengan Yayasan Pendidikan Nusa Cendana dan PEMDA Kabupaten Sumba Barat Daya – didirikan sebuah Sekolah Tinggi – STKIP di Weetebula yang saat ini menampung kurang lebih1200 mahasiswa/i.

Di beberapa paroki dihidupkan KBG model sebagai wadah pemberdayaan iman dan ekonomi umat.
Peningkatan sosialisasi dan rekrutmen anggota umat untuk menjadi anggota CU Liku Abba yang sampai saat ini beranggotakan 2100 anggota.
Peningkatan Status Stasi Santo Alfonsus – Kererobo dan Stasi Santo Paulus – Karuni menjadi Kuasi Paroki.
Pembangunan Rumah UNIO KeuskupanWeetebula
Kunjungan dan temu dengan Dewan Paroki dan TokohUmat Katolik di setiapparoki
Menerima para Pater Ordo Carmel (O. Carm.), Suster-suster Sang Timur (PIJ), Suster-suster Santo Wolto (SCV) untuk berkarya di wilayah Keuskupan Weetebula.

REFLEKSI
Refleksi di bawah ini merupakan amatan kami secara pribadi atas semua reksa pastoral yang terjadi di Keuskupan Weetebula.

Bila saya sejenak menoleh ke belakang mulai 25 tahun silam saya berani mengatakan Gereja Katolik Keuskupan Weetebula dengan sepenuh hati telah berhasil memekarkan wilayah pelayanan (pembukaan stasi dan paroki baru) dan berhasil memberdayakan umat, antara lain untuk mendirikan gedung-gedung gereja, berhasil pula menambah kuantitas umat, tetapi inti ajaran iman Katolik ternyata belum merasuk dalam hati dan menjadi milik umat Katolik itu sendiri (baca: umat kurang paham akan imannya). Pada sisi lain, Gereja Katolik di Keuskupan ini hanya dengan setengah hati terjun dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat.

Kemiskinan masih menjadi belenggu tak terelakkan dari umat. Dua hal ini dalam catatan Bapak Uskup menjadi keprihatinan besar yang mendesak untuk dientaskan.

Periode 4 tahun ini sesungguhnya merupakan saat Redemptionem bagi umat Katolik untuk bangkit dan mulai menata iman dan kesejahteraan ekonominya bersama para gembalanya.

Pada 4 tahun terakhir ini, telah dirumuskan dengan sangat konkrit apa yang harus diwartakan untuk memberdayakan iman umat dan apa yang harus dilakukan untuk memberdayakan ekonomi umat, agar terwujud umat Allah yang bersatu, mandiri dan memasyarakat dalam semangat injil Yesus Kristus.
Tetapi keperihatinan tersebut masih bercokol manis dalam kehidupan umat Katolik Keuskupan Weetebula. (baca penegasan Bapak Uskup dalam Sidang Komisi Tahun 2012 di atas). Prioritas karya kita sederhana sekali ”berdayakan ekonomi umat agar mereka sejahtera secara financial, setelah itu berjalan bersama sambil mengajar mereka menuju Kerajaan Allah.”

Siapa – Apa yang salah dan Mengapa (SAM)?
Arah dan fokus Pastoral Keuskupan kita sungguh sangat jelas, lantas apa, dan siapa yang salah serta mengapa hasilnya memprihatinkan? Saya tidak mau mempersoalkan atau menjawab tiga pertanyaan tersebut.

Saya hanya mau mengungkapkan bahwa setiap petugas pastoral, dan segenap umat perlu berefleksi dan saling tolong-menolong untuk mengatasi keprihatinan yang kita ketahui bersama – iman dan ekonomi sebagai belenggu mendasar kehidupan kita di keuskupan ini. Di samping itu, setiap orang yang diberi tanggungjawab penggembalaan harus mempunyai FOKUS dan PRIORITAS kerja yang jelas, tepat dan pasti dalam memberdayakan umat secara holistik.

Di samping itu setiap petugas pastoral harus HIDUP TERATUR punya program kerja dan setia padanya; menghindari improvisasi berlebihan, tidak kaku dalam managemen, selalu sadar bahwa karya yang dilakukan adalah Kehendak Tuhan, setia merayakan ekaristi, bersemangat dan konsekuen dengan imamat, meneladan Bunda Maria, dan akhirnya seorang petugas pastoral dalam melaksanakan tugasnya, ia harus “enjoy, happy“ dan tekun untuk berlangkah tahap demi tahap bersama umat secara bertanggungjawab. Dalam beberapa kesempatan hal ini terus-menerus ditegaskan Bapak Uskup.

Segenap umat Katolik Keuskupan Weetebula merindukan dan ingin menggapai PENEBUSAN secara adil dalam setiap dimensi hidup mereka. Menanggapi kerinduan umat akan penebusan tersebut kita pernah berdiskusi dan menyepakati hal – hal sbb:

Segenap umat keuskupan terutama para perangkat pastoral diharapkan mewartakan Sabda Allah mengenai persekutuan/persatuan sebagai landasan untuk mengatasi segala belenggu dan konflik dalam umat, sehingga semua umat mengalami penebusan/pembebasan.

Upaya pembebasan dari belenggu financial sesungguhnya merupakan bagian penting dari hidup umat yang perlu diperhatikan, untuk itu para petugas pastoral sangat diharapkan agar mendorong dan terus mendorong umat untuk menghidupkan semangat MENABUNG pada Credit Union yang ada di keuskupan ini. Dalam kaitan dengan dimensi rohani dan pastoral, perlu ditingkatkan kemandirian dalam bidang iman dan tenaga pastoral.

Penebusan Allah tidak saja untuk umat katolik, tetapi harus dibawa keluar ke tengah-tengah masyarakat umum, karena itu umat katolik pantas terlibat dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan.
Pilihan dasar keterlibatan umat katolik pada setiap line kehidupan berazaskan semangat Injil Yesus Kristus.

Membangun dan memberdayakan persekutuan umat Allah mulai dari BASIS.
Memperdalam iman akan Yesus yang berakar pada KS, Sakramen, Tradisi Gereja serta budaya.
Membangun solidaritas terutama dengan para fakir miskin, lemah dan menderita
Membina persaudaraan sejati dengan semua orang
Membela kehidupan
Mengadakan dialog kehidupan, karya dan iman dengan umat beragama lain dan pemerintah.
Butir – butirsudahmulaiterlihat, namunkitamasihharusbekerjakerasuntukmewujudkannyasecaraberdayaguna.

PENUTUP
Upaya pemberdayaan untuk meningkatkan kehidupan umat dalam dimensi rohani dan dimensi lahiriahnya/ekonomi, pada akhirnya tergantung kemauan baik dua subyek: Para Pastor dan Umat. Pastor yang tidak focus ketika berhadapan dengan umat yang “apatis” dari waktu ke waktu hanya akan melaksanakan tugas pastoral sebagai sebuah rutinitas.

Peningkatan beberapa stasi menjadi Quasi Paroki sebagai upaya mendekatkan pelayanan rohani dan jasmani umat sesungguhnya merupakan peluang berharga bagi petugas pastoral di tempat tersebut untuk semakin dekat masuk dan mengenal situasi konkrit umat dan persoalannya.

Pertambahan jumlah umat dari tahun ke tahun belum dibarengi dengan penanaman nilai-nilai kristiani dan pemberdayaan ekonomi umat secara signifikan. Kita juga menyaksikan bahwa banyak umat kita telah mengubah perintah Allah yang ketiga: “Kuduskanlah hari Tuhan” menjadi “Kuduskanlah hari pasar.”Saya sering berkhayal – rupanya di pasar mereka menemukan altar Tuhan yang memberikan roti untuk kehidupan mereka secara konkrit. Sementara di altar Gereja mereka harus menanti penuh kesabaran entah kapan terpenuhi kerinduan mereka.

Saya bahagia bekerja bersama YM. Bapak Uskup Weetebula yang memiliki kesabaran dan ketenangan sikap, ketika harus berhadapan dengan petugas pastoralnya yang “galau, sakit, dan melalaikan tanggung jawab.” Saya juga mengagumi kecintaan bapak uskup terhadap SakramenEkaristi dan Ibadat Harian, serta ramah mempersilakan semua yang dating berkunjung di Keuskupan untuk bersantap bersama, bila waktunya telah tiba.”

Proficiat Bapak Uskup. Walau baru 4 tahun – saya telah melihat, mengalami dan merasakan sentuhan kegembalaan yang menyejukkan hati umat Keuskupan Weetebula.

Mateus Selan, CSsR

1918 Total Views 1 Views Today

You may also like...

1 Response

  1. Farbademba says:

    “Dan kini, saya ingin memberikan bekart, tetapi pertama-tama saya meminta tolong kepada kalian: sebelum Uskup membekarti umat, saya minta kalian berdoa agar Tuhan memberikan bekart kepada saya: doa umat untuk Paus mereka. Marilah kita, dalam ketenangan, berdoa untuk saya.”setelah mengucapkan kata-kata di atas opa frans membungkukkan badan. saya tergetar menyaksikan peristiwa ini… semoga opa frans membawa perubahan berarti di vatikan, gereja katolik, juga dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *