Pastor, Jagalah Jantungmu demi Umat!

Seminar jantung sehat bersama dr. Irene Setiadi dari KBKK pada Pekan Komunikasi Sosial ke-48 di Ruang Seruni Keuskupan Weetebula

Seminar jantung sehat bersama dr. Irene Setiadi dari KBKK pada Pekan Komunikasi Sosial ke-48 di Ruang Seruni Keuskupan Weetebula/ Foto : Royani Lim-sesawi.net

KESEHATAN adalah segala-galanya, namun banyak orang yang kehilangan segala-galanya karena kesehatan.

Kalimat pembuka tersebut pas menggambarkan pentingnya kesehatan agar diperhatikan semua orang, termasuk tentunya para biarawan-biarawati. Alasan inilah yang membuat seminar jantung sehat ini dimasukkan sebagai salah satu acara dalam Pekan Komunikasi Nasional ke-48 yang diadakan Komsos KWI di Sumba, Keuskupan Weetebula (27/5/2014).

Seminar dibuka dengan pemutaran dua film dokumenter singkat tentang jantung. Kemudian dr. Irene menjelaskan latar belakang seminar ini digagas. Masih segar dalam ingatannya, dua tahun lalu ada empat pastor yang meninggal dalam waktu yang berdekatan – meninggal muda gara-gara serangan jantung yang sering dijuluki the silent killer.

Penyebab  penyakit jantung

Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit jantung tentu perlu diketahui penyebabnya.

Menjawab pertanyaan salah satu pastor peserta, dr. Irene menjelaskan bahwa faktor genetik memang berperan. Riwayat sejarah jantung orang tua perlu diketahui. Hal yang perlu dilihat adalah apakah ada penyakit diabetes?

Diabetes, biang perusak
Diabetes atau kencing manis menurut istilah awam merupakan penyakit yang daya rusaknya tinggi sekali. Selain meningkatkan kolesterol, membuat semua organ cepat rusak, juga menyebabkan penumpukkan kerak dan penuaan dini pada pembuluh darah.

“Pembuluh darah itu seperti pipa, kalau masih baru maka lentur fleksibel, walau tekanan air tinggi tidak ada masalah. Nah, kalau sudah ada kerak, menjadi kaku dan mudah pecah. Kalau pecah, menyebabkan stroke,” urai dokter lulusan Jerman tersebut.

Berarti anak yang memiliki orangtua penderita diabetes lebih berisiko terkena penyakit jantung. Pertanyaan selanjutnya tentu apa itu bisa dicegah? “Bisa,” jawab dr. Irene, pendiri KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) yang telah malang melintang dalam pelayanan selama belasan tahun ke hampir seluruh keuskupan di Indonesia.

Anak tersebut perlu dijaga supaya tidak over-weight alias obes. Kalau menjadi gemuk tak terkendali, ketika kelelahan atau breakdown maka penyakit gula turunan tersebut meningkat risikonya 5-10 kali muncul. Selain itu pola hidup sehat perlu dianut, termasuk berolahraga.

Gaya hidup
Faktor gaya hidup memang merupakan salah satu penyebab utama penyakit jantung. Olah raga rutin dan sesuai, pola makan termasuk pilihan jenis makanan yang baik, wajib hukumnya untuk mendapatkan kesehatan yang baik di masa depan.

Pola makan seperti makanan banyak lemak, digoreng, atau yang bersantan banyak dalam 10 tahun akan merusak tubuh kita. Orang yang sehat seperti orang Sunda yang memakan banyak sayuran dalam menu sehari-harinya.

Kadang orang yang meninggal akibat serangan jantung tidak menunjukkan gejala jelas sebelumnya, maka pencegahan sangat perlu diperhatikan.

Olahraga yang sesuai
Untuk orang yang sudah berusia di atas 45 tahun, olahraga yang sesuai yaitu berenang atau yang lebih sederhana lagi adalah jalan cepat. “Awali dulu dengan jalan perlahan,” pesan dr. Irene, “secara perlahan ditingkatkan menjadi jalan cepat, cukup selama 30 menit.”
Dokter spesialis kulit dan kelamin ini juga mengingatkan akan bahaya pemasaran dari produk-produk suplemen kesehatan yang gencar ditawarkan secara berlebihan terutama oleh awam.

“Harganya bisa 100x dari harga multivitamin biasa. Ada yang baik, tetapi waspadalah akan produk-produk yang kualitasnya tidak sebanding dengan harganya,” tambah dr. Irene.

Perangi kemiskinan dengan stop merokok!
Selain bicara tentang penyakit jantung, dr. Irene juga memaparkan tentang bahayanya merokok.

“Menurut data ilmiah, 8 dari 10 penderita kanker paru-paru adalah perokok,” tegas dr. Irene, “ini juga termasuk perokok pasif.”
Menurut wakil umat Katolik di KKI ini, satu pertiga rakyat Indonesia merupakan perokok. Itu berarti sekitar 80 juta jiwa. Dia mengajak para peserta menghitung kerugian yang dialami setiap hari dari hasil kepul asap ini.

“Katakanlah setiap perokok menghabiskan satu bungkus rokok sehari, seharga Rp10.000. Maka dalam satu hari saja sebanyak
Rp800.000.000.000 alias 800 miliar rupiah ‘dibakar’. Melihat angka yang mencengangkan ini, marilah kita perangi kemiskinan dengan menghentikan rokok,” seru dr. Irene.

Tidak hanya dampak luar biasa pada ekonomi, lebih lanjut dia mengajak peserta melihat pengaruh buruk dari rokok terutama terhadap generasi muda.

“Dari 80 juta perokok, 5 persen menjadi pecandu narkoba – 4 juta. Rokok merupakan anak tangga pertama masuk ke narkoba, alcohol, dan seks bebas,” jelasnya.

Seminar ini dihadiri tidak kurang dari 108 orang yang terdiri dari 45 pastor, 12 suster, 11 frater , sisanya awam yang merupakan perwakilan dari paroki-paroki, lembaga, dan komisi –komisi keuskupan.

Para peserta tampak antusias menyerap informasi yang diberikan, seperti terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan.

1407 Total Views 1 Views Today
Royani Lim

Royani Lim

Anggota redaksi Sesawi.net dan karyawan di lembaga nirlaba di Jakarta

You may also like...

2 Responses

  1. Rm. Nus says:

    Proficiat dn selamat berjuang bagi seluruh umat keuskupan weetebula…

  2. Rm. Nus Nggaji says:

    Proficiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *