Pakamadara, Stasi Pertama di Sumba

Taman Doa Pakamandara saat ini

Taman Doa Pakamandara saat ini

 

Pada Hari Raya Paskah 21 April 1889, para misionaris perintis mendarat di Ketewel/Laura. Mereka disambut hangat oleh raja dan rakyat Bukaregha.

Dalam waktu yang relatif, singkat mereka membuka stasi baru di PAKAMANDARA dan stasi itu diberi nama stasi Laora (1889) dan kemudian menjadi Stasi WANNO PETRI (1897) untuk mengenang Santo Petrus Claver yang justru pada tahun 1897 digelarkan kudus. Dalam tiga bulan pertama, mereka berhasil membaptis 750 anak dan orang dewasa. Sedari awal, para misionaris ini mengusahakan pendidikan dan pembinaan di dalam asrama misi.

Tanggal 29 Nopember 1898, para misionaris Yesuit meninggalkan Sumba. Kekurangan tenaga dan sulitnya transportasi menjadi matarantai penyebab kepulangan mereka dari Sumba.

Dalam kurun waktu hampir 10 tahun 1889 – 1898, telah terpatri dalam hati anak-anak Sumba nama-nama para misionaris: P. Schweitz,SJ; P. Van de Velden, SJ; P. Mulders, SJ; P. Engbers, SJ; Br.Busch, SJ; Br. Jan Zinken, SJ;        Br. Jan de Jong, SJ.

Makam Rm Domi Rua Dappa, Pr, Imam Projo pertama Keuskupan Weetebula

Makam Rm Domi Rua Dappa, Pr, Imam Projo pertama Keuskupan Weetebula

Nama Pakamandara sampai saat ini masih dikenang oleh umat Katolik Sumba. Setiap tahun, umat Katolik pasti melaksanakan kegiatan rohani – berupa ziarah salib dan perayaan ekaristi, ziarah pribadi umat katolik di tempat ini. Bahkan di tempat ini, telah dimakamkan jasad Imam Pribumi Pertama – Putera Sumba, Rm. Dominikus Rua Dappa, Pr – yang genap 40 tahun meninggal dunia pada tanggal 23 Juni 2014.

957 Total Views 1 Views Today
Romo Orys Christian

Romo Orys Christian

Sekretaris Keuskupan Weetebula

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *