Sambutan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi dalam Misa Syukur 125 tahun Gereja Katolik di Pulau Sumba

Puncak ISeminari Menengah Sinar Buana, 30 Oktober 2014,

125 tahun telah berlalu dan selama itu Gereja Katolik telah hadir dan berkarya di pulau Sumba, negeri para Marapu. Menandai 125 tahun karya Gereja tersebut, umat Katolik sedaratan Sumba telah membuat berbagai kegiatan selama setahun terakhir untuk mengenangkan, memperbaharui dan sekaligus memeriahkan peringatan 125 tahun hadirnya Gereja Katolik di tanah Sumba yang berpuncak dalam perhelatan akbar Misa Syukur pada tanggal 30 Oktober 2014 yang bertempat di lapangan Seminari Menengah Sinar Buana. Perayaan Syukur ini dihadiri ribuan umat dari paroki-paroki sedaratan Sumba, perwakilan pemerintah, saudara-saudara lintas Gereja dan lintas Agama, para biarawan dan biarawati, ratusan Imam konselebran, perwakilan Keuskupan, perwakilan tarekat, dua Uskup tamu dan Perwakilan Takhta Suci – Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi. Dalam kesempatan mulia dan istimewa tersebut, Mgr. Antonio selaku perwakilan resmi Takhta Suci berkenan memimpin Perayaan Ekaristi dan menyampaikan sambutannya. Berikut ini adalah naskah sambutan beliau yang disampaikan dalam Perayaan Ekaristi Syukur 125 tahun Gereja Katolik di Sumba:

“Dengan sukacita saya bersama Anda dan untuk Anda merayakan Ekaristi Suci, yang merupakan Perjamuan Syukur sempurna bagi Tuhan atas segala anugerahNya. Hari ini rasa syukur kita kepada Tuhan ditunjukkan terutama atas seratus duapuluh lima tahun kehadiran dan perutusan Gereja di Sumba. Sudah seratus duapuluh lima tahun orang mewartakan Injil di tanah ini, orang merayakan Sakramen-Sakramen, dengan demikian Gereja Kudus Tuhan hidup dan berkarya.

Saya sangat gembira menyampaikan kepada Anda semua – Mons. Edmund Woga CSSR, para imam, biarawan-biarawati, para keluarga dan seluruh umat beriman – salam dan berkat Paus Fransiskus, yang dengan hormat saya wakili kehadirannya di Indonesia.

Sesungguhnya, Gereja di Sumba, Keuskupan Weetebula adalah bagian dari keluarga besar Gereja Katolik dan oleh keterikatannya dengan keluarga besar inilah Injil diwartakan sampai kemari, berkat jasa para pria dan wanita dari bagian dunia lain yang tiba di Sumba untuk membagikan iman mereka pada Tuhan Yesus, pembebas manusia yang satu dan sebenarnya.

Dalam ungkapan syukur kepada Tuhan, kita teringat kepada orang-orang yang telah menjadi sarana Tuhan sendiri dalam mewartakan Injil di Sumba. Kita kenang khususnya kedua imam Jesuit awal yang ditemani beberapa awam muda Flores mendarat pada tanggal duapuluh satu (21) April seribu delapan ratus delapan puluh sembilan (1889). Dan, sesudah mereka, kita kenang para misionaris (SVD) dan, kemudian, para Redemptoris, putra-putra S. Alphonsus Maria Liguori, beserta Kongregasi biarawan biarawati lain yang ada di Keuskupan.  Bersama para pewarta Injil yang datang dari luar, bergabunglah kaum lelaki dan perempuan Sumba imam, biarawan, suster, seminaris, keluarga dan awam, yang tidak saja menanggapi Injil, bahkan mereka sendiri menjadi pekerja dalam perutusan Gereja disini, di bagian Indonesia lainnya dan bahkan di dunia.

Peringatan Jubileum ini bukanlah semata-mata sebuah titik pencapaian, dimana orang berhenti dengan rasa puas diri dan duduk-duduk manis, tetapi ia haruslah menjadi sebuah saat refleksi, doa dan bersukacita untuk mengayunkan kembali langkah Gereja di Sumba.

Sesungguhnya, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, pekerjaan yang harus ditingkatkan dalam jumlah, namun terlebih dalam kualitas hidup Kristiani. Janganlah lupa bahwa kita biasanya mengukur berdasarkan angka-angka statistik saja, sementara di hadapan Tuhan setiap insan memiliki makna, lewat iman dan amal kegiatannya, lewat kekudusan dan karya kerasulannya di dalam Gereja dan di dunia.  Kita semua wajib saling membantu dan mendukung setiap orang agar di hadapan Tuhan ia semakin lebih kristiani, bermurah hati, lebih terlibat, lebih kudus dan bersemangat misioner. Dengan demikian akan semakin berarti dan bernilai merayakan jubileum seperti ini, karena menjadi inspirasi bagi langkah yang masih menanti kita di kemudian hari.

Kita bawa warta gembira bahwa Kristus telah membebaskan kita. Bahwa ini merupakan suatu kabar luar biasa, karena setiap orang yang terbelenggu secara eksternal, bahkan dewasa ini sudah lebih internal sifatnya, berpeluang menjadi sungguh-sungguh bebas. Hanya Kristus yang membuat kita sungguh bebas dan bukan yang lainnya! Injil dengan kebenarannya dan cinta kasihnya cukup membebaskan kita, dan tak perlu lagi ideologi sosial, politik atau ekonomi. Pembebasan yang dibawa Kristus, terlebih dan terutama adalah pembebasan dari dosa. Bila manusia masih menjadi budak dosa dan budak dunia, kebebasan eksternal bukanlah sungguh sebuah kebebasan, alih-alih kebebasan itu bisa membawa ke perbudakan internal yang semakin lebih besar.

Ijinkanlah saya memberikan suatu rekomendasi bagi karya masa depan Keuskupan Weetebula, dengan menimba inspirasi dari Pendiri Redemptoris – Santo Alfonsus Maria Liguori, dan dari pesan berulang-ulang Paus Fransiskus tentang belas kasih Tuhan. Sungguh perlu menyambut pembebasan Kristus yang kita terima melalui Sakramen Pengakuan, yang dilakukan secara teratur dan benar. Sayangnya, sudah beberapa waktu terakhir, Sakramen ini tengah mengalami krisis berat dalam teori dan praktek, dan masih terus berlangsung, juga di Indonesia. Disinilah mungkin letak sumber berbagai keburukan dan permasalahan dalam Gereja dan juga masyarakat! Oleh karenanya, saya mengajak Keuskupan Weetebula untuk bertindak dengan sungguh dalam karya pastoral Sakramen Pengakuan.

Saya mengajak para imam projo dan biarawan untuk terlebih dahulu menerima sakramen Pengakuan ini, untuk mempersiapkan diri dalam studi dan doa bagaimana melayani Sakramen ini, untuk mendidik umat beriman dan untuk menyediakan diri dan bermurah hati dalam melayani saudara-saudari mereka. Saya mengajak seluruh umat beriman agar lebih sering dan secara baik menerima Sakramen Pengakuan. Janganlah jatuh dalam kemalasan atau kebiasaan serta pemikiran yang sesat yang membuat kita menjauh dari Pengakuan Dosa! Bagi orang muda, sakramen akan juga menjadi tempat bantuan merenungkan panggilan mereka. Bagi para imam, biarawan, biarawati, orang yang berumah tangga,  Sakramen akan menjadi sarana yang ampuh untuk memperoleh bimbingan dan dukungan dalam menanggapi secara setia panggilan masing-masing.

Melalui pengalaman pembebasan secara pribadi, yang telah Kristus berikan kepada kita, kita akan bisa menyampaikan pembebasan ini kepada yang lain-lain, hingga bersama dengan kita dan seperti kita mereka mengalami sukacita seorang anak durhaka yang pulang kembali ke rumah Bapa. Inilah, sesungguhnya, dasar, prasyarat bagaimana menjadi pewarta Injil dan sekaligus pembangun masyarakat sipil: memelihara terutama kehidupan dan formatio Kristiani.
Keuskupan Weetebula yang terkasih, ambillah kembali langkahmu dalam bimbingan Tuhan dan Roh KudusNya! Teruslah membawa sukacita dan penuh kesetiaan bagi semua orang Kabar Sukacita bahwa Yesus adalah kebenaran dan cinta kasih yang membuat kita sungguh-sungguh bebas!”

Salam dan Berkat Tuhan,
Mgr. Antonio Guido Filipazzi
Duta Besar Vatikan untuk Indonesia

 

1111 Total Views 1 Views Today
Romo Orys Christian

Romo Orys Christian

Sekretaris Keuskupan Weetebula

You may also like...

1 Response

  1. Robert says:

    Baru dua hari memimpin, Uskup yang haangt ini telah menepis beberapa tradisi formal di vatican (menurut tempo.co).I like the man act out of the box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *