MURAH HATI SEPERTI BAPA

SURAT GEMBALA USKUP KEUSKUPAN WEETEBULA

dalam Rangka Membuka Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati!” (Luk 6,36)
“Ampunilah maka kamu akan diampuni” (Luk 6,37)

Umat katolik se Keuskupan Weetebula yang saya kasihi!
Pertama-tama saya ingin menyampaikan Salam Bahagia NATAL dan berkat di TAHUN BARU bagi semua dan masing-masing umat.

Pada tgl. 8 Desember 2015 yang lalu, tepat pada pesta ‘Santa Maria Dikandung Tanpa Dosa Asal’, Bapa Paus Fransiskus membuka TAHUN SUCI ‘Kerahiman Allah’ di gereja Santo Petrus di Roma. Pada hari Minggu sesudahnya beliau membuka ‘pintu suci’ Tahun Kerahiman di katedral Keuskupan Roma, yakni di gereja Santo Yohanes Lateran. Pada saat yang sama di semua katedral di seluruh dunia, diberi kesempatan untuk membuka ‘pintu suci’ Kerahiman Allah di gereja induk Keuskupan masing-masing. Bertepatan dengan pembukaan ‘pintu suci’ di gereja Santa Maria Majore di Roma pada hari pesta ‘Santa Maria Bunda Allah’, yakni pada hari ini, kita membuka juga pintu Gereja Induk Keuskupan kita, di Gereja Katedral di Weetebula untuk menyambut Tahun Suci Kerahiman Allah. Bersamaan dengan pembukaan ‘pintu suci’ di Gereja Katedral, juga dibuka pintu-pintu suci lainnya di setiap dekenat kita: yakni gereja Sang Penebus Wara untuk dekenat Waingapu, gereja Santo Klemens Maria Hofbauer di Katiku Loku untuk dekenat Waikabubak. Sedangkan di dekanat Weetebula di Katedral. ‘Tahun Suci’ ini berlangsung sejak hari Pembukaan tgl. 8 Desember 2015 sampai nanti ditutup pada Hari Raya KRISTUS RAJA tgl. 20 November 2016.
‘Pintu Suci’ yang dibuka selama ‘Tahun Kerahiman’ adalah lambang keterbukaan pintu hati Allah sepanjang zaman bagi semua manusia yang bertobat dan datang kepada-Nya untuk meminta pengampunan. Pintu ini terbuka, agar kita orang beriman memasuki Rumah Tuhan untuk mengalami dan merasakan kemurahan hati-Nya. Gereja menjadikan dirinya hamba kemurahan hati Allah dan menjembataninya bagi semua orang; kasih yang mengampuni dan terungkap dalam pemberian diri tanpa pamrih, yakni memberi tanpa menuntut balasan. Di mana pun gereja hadir, kerahiman Allah sebagai Bapa harus menjadi nyata. Gereja yang dimaksud adalah kita semua, tanpa kecuali, baik imam, biarawan-biarawati maupun awam.

Umat Keuskupan Weetebula yang saya kasihi!
Mari kita berterima kasih kepada Bapa Suci Fransiskus yang mengajak kita orang katolik untuk merayakan ‘Kerahiman Allah’ selama tahun 2016 ini. Itu berarti, kita tidak hanya merenung dan omong tentang kerahiman Allah, tetapi harus berusaha menjadi orang yang hidup penuh belas-kasih terhadap keluarga, tetangga, dan sesama, seperti Allah Bapa di surga tidak pernah berhenti berbelas-kasih kepada kita manusia. Maksudnya, bahwa kita bermurah hati dan berbelas kasih tidak hanya sepanjang tahun ini, tetapi selama tahun suci ini kita belajar dan berusaha lebih giat, agar sifat yang baik seperti: menjadi orang yang sabar, bersedia saling mengampuni, bermurah hati serta peduli kepada orang yang miskin dan menderita, menjadi sikap hidup dan tingkah-laku kita sehari-hari. Sebagai Kepala Gereja Paus Fransiskus melihat, bahwa pengaruh dunia modern sekarang ini, membuat kita menjadi manusia yang acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama, dan hidup hanya untuk diri sendiri, tanpa belas-kasih dan pengampunan terhadap sesama, padahal kerahiman adalah dasar agama kita. Dalam surat edarannya Paus menulis: “Kerahiman Allah adalah pondasi hidup Gereja.” Maka itu, jika kita sebagai gereja tidak murah hati, sabar dan suka mengampuni, maka pondasi gereja akan goyah.
Kitab Suci yang merupakan dasar dan patokan bagi kita, untuk mengukur bagaimana cara kita hidup sebagai orang yang percaya kepada Allah, adalah Sabda Tuhan yang berceritera terus-menerus tentang Allah yang maharahim dan penuh belas-kasih. Kita ingat ceritera-ceritera dari Injil: tentang ‘orang Samaria yang berbelas-kasih’; tentang ‘bapa yang dengan penuh kasih menerima kembali anaknya yang hilang, walaupun ia memboroskan harta bapanya’; tentang Tuhan Yesus yang mendekati orang berdosa dan menyapa mereka, yang tergerak hati-Nya ketika melihat orang lapar, orang miskin, orang sakit, orang yang disingkirkan di dalam masyarakat, yang menangis ketika mendengar kabar tentang kematian sahabatnya Lazarus; tentang ‘Tuhan Yesus yang dari atas salib masih sempat mengampuni penjahat yang juga disalibkan di gunung Golgota. Dan, masih banyak ceritera lain yang menunjukkan bahwa sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus mewujudkan dan memperlihatkan kerahiman Allah kepada kita manusia. Dia adalah ‘Wajah Kerahiman Allah’. Peduli terhadap sesama, lebih-lebih mereka yang miskin dan berkekurangan, sikap sabar dan bersedia mengampuni harus selalu lebih kuat dari pada emosi dan kemarahan kita.

Umat katolik yang saya kasihi!
Kita bangga, karena kita beragama katolik. Biasanya kita bangga, karena kita di dalam Gereja Katolik mempunyai seorang Bapa Suci di Roma sebagai tanda atau pribadi pemersatu. Kita juga harus bangga, bahwa Allah yang kita percaya, adalah Bapa yang murah hati, sabar, penuh belas-kasih dan selalu bersedia mengampuni kita manusia yang bertobat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membatasi cinta Allah yang selalu siap mengampuni.
Sampai di mana kebanggaan kita ini berguna untuk hidup dan pergaulan dengan orang lain, harus menjadi pertanyaan dan renungan terus-menerus di dalam hidup kita sebagai orang katolik. Jangan sampai kita mengaku diri dengan bangga sebagai orang katolik, tetapi sehari-hari kita membangun permusuhan dengan orang lain, cepat emosi dan mengangkat parang kepada sesama, bahkan kepada adik-kakak dan orang-tua kita sendiri. Bahkan di antara kita sendiri di dalam gereja, kita membangun permusuhan. Padahal Tuhan Yesus mengajar kita untuk mengasihi musuh. Apa yang dapat kita banggakan lagi, kalau kita hidup jauh dari kerahiman Allah? Padahal, cinta antara kita harus menjadi pewartaan dan kesaksian tentang kerahiman Allah kepada manusia, sehingga dapat menjadi teladan untuk siapa saja. Jangan lupa pesan Bapa Suni, ‘kita adalah jembatan kerahiman Allah kepada sesama.

Umat beriman yang terkasih!
Dalam suratnya Bapa Suci memperingatkan kita untuk sendiri mengalami kerahiman Tuhan, dengan lebih sering mengalami pengampunan Allah, di tempat-tempat pengakuan dosa, ketika menerima Sakramen Tobat. Kamar-kamar pengakuan menjadi semakin sepi di gereja-gereja. Semakin banyak umat katolik yang melihat sakramen tobat dengan sebelah mata. Bapa Suci berpesan kepada kami para imam untuk menggalakkan lagi dan memberikan kesempatan terus-menerus bagi umat untuk menerima sakramen tobat. Bahkan dengan sangat konkrit Bapa Suci berpesan, supaya kami para bapa pengakuan mengurangi pertanyaan-pertanyaan di ruang pengakuan. Sepanjang Tahun Suci kita diberi kesempatan untuk mendapatkan ‘Indulgensi Genap’. Dengan itu tidak hanya dosa kita diampuni, tetapi juga hukuman sementara diampuni. Bapa Suci juga mengajak kita untuk lebih sering berziarah ke tempat-tempat ziarah yang ada di mana-mana, baik di Keuskupan kita, maupun di tempat-tempat lain. Pergunakanlah saat berziarah untuk menjadi waktu menerima rahmat pengampunan dari Allah dalam Sakramen Tobat. Dengan lebih sering ke tempat-tempat ziarah, hati kita tergerak untuk bertobat dan memperoleh pengampuan dari Allah yang Maharahim. Untuk maksud ini dekanat-dekanat akan menentukan tempa-tempatt ziarah di dekanat sebagai tempat ziarah utama selama Tahun Suci ini.

Umat yang terkasih!
Bapa Suci memperingatkan kita, supaya kemurahan hati kita harus berdampak untuk seluruh ciptaan, tidak hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh makhluk ciptaan lain. Pertanyaan bagi kita, bagaimana kemurahan Allah terjadi pada makhluk ciptaan lain, kalau di mana-mana kita masih gemar membakar hutan dan membakar padang, kita masih suka merusak lingkungan alam di sekitar kita, kita masih menggunakan bahan-bahan kimia yang merusak lingkungan, yang tidak hanya mematikan rumput, tetapi juga membunuh makhluk hidup lain yang diciptakan oleh Allah untuk menyuburkan tanah. Anak-cucu kita akan makan apa, kalau tanah dan lingkungan telah kita rusakan. Kita juga harus belajar berbelas-kasih kepada ruang dan waktu. Kita tidak boleh hanya ingat diri kita sendiri! Kita tidak boleh hidup hanya untuk sekarang, tetapi kita membuka kemungkinan untuk kehidupan pada hari-hari esok dan tahun-tahun yang akan datang. Bumi kita adalah ‘IBU’ bagi semua makhluk ciptaan sejak awal penciptaan sampai akhir zaman.

Umat katolik yang saya kasihi!
Selama tahun suci ini Keuskupan Weetebula membuka lagi kesempatan untuk menyelesaikan urusan-urusan gerejani sehubungan dengan perkawinan-perkawinan hubungan darah dekat yang sudah terlanjur terjadi. Namun, kita tetap berusaha untuk menghindari perkawinan-perkawinan seperti ini, yang membawa dampak yang tidak baik untuk kehidupan keluarga kita, untuk keturunan-keturunan kita selanjutnya. Mari kita memaknai Tahun Suci ini dengan tidak merusak ciptaan Tuhan, tetapi sebagaimana Allah mencipta karena mencintai kita, demikian pula kita, tidak hanya ikut ambil-bagian pada karya mencipta Allah, tetapi juga menjaga, melindungi, mengembangkan ciptaan supaya menjadi semakin sempurna.

Selamat memaknai TAHUN SUCI KERAHIMAN ALLAH ini dengan mencintai dan menjadi murah hati kepada sesama dan kepada seluruh ciptaan Allah. SELAMAT TAHUN BARU 2016.

Uskup Keuskupan Weetebula,

+ Edmund Woga, C.Ss.R.

1294 Total Views 1 Views Today
Romo Orys Christian

Romo Orys Christian

Sekretaris Keuskupan Weetebula

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *